stay enjoy with my music

Kamis, 20 Desember 2018

Hubungan Antara Pembentukan Moral Anak Dengan Hubungan Sosialnya


Hubungan sosial merupakan hal yang penting ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar. Perilaku empati merupakan kemampuan individu untuk bereaksi sesuai dengan apa yang dirasakan orang lain. Empati dipengaruhi oleh perspektif individu, gender, inteligensi, kemiripan, pengalaman, persaudaraan, metode disiplin, dan kehangatan. Melalui storytelling, anak diharapkan untuk dapat memahami perbedaan pikiran dan perasaannya dengan orang lain.(Ayuni & Rusmawati, 2013). Pada dasarnya kegiatan berstorytelling yang dapat diartikan sebagai kegiatan bercerita yang didasarkan pada cerita yang bersifat fiksi ataupun Non-fiksi adalah sebuah kegiatan yang sejak dahulu telah dilakukan oleh masyarakat khususnya ditujukan bagi orangtua dan anak  yang pada umumnya memberikan pengaruh positive  bagi pola pikir dan tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menjadikan kegiatan storytelling sebagai sesuatu yang sangat menarik bagi anak karena dapat membentuk imaginasi yang menuntut anak seolah-olah terlibat dalam cerita. Bukan hanya dalam keluarga ataupun lingkup kehidupan masyarakat sehari-hari, storytelling juga digunakan oleh lembaga pendidikan sebagai salah satu sarana pembelajaran dalam pembentukan karakter dan moral siswa.
Perilaku empati pada anak merupakan salah satu bagian dalam pembentukan moral dalam dirinya. Pendidikan moral pada masa modern merupakan tanggapan dan reaksi atas model pendidikan yang berkembang sejak abad pertengahan. Pendidikan moral yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi merupakan reaksi atas keterbatasan pedagogi natural. Lahirnya pendidikan moral atau karakter sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme. Tujuan pendidikan moral adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial antara si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Pendidikan moral percaya adanya keberadaan moral absolute dan bahwa moral absolute itu perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik dan benar. Substansi dari pendidikan moral adalah membentuk kepribadian yang paripurna bagi setiap anak. Prilaku yang diharapkan akan lahir adalah; berbuat jujur, menolong orang, menghormati, bertanggungjawab, menghargai, menyayangi saling menerima, empati, simpati dan menerima apa adanya. Pendidikan moral mempunyai makna lebih tinggi, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan moral dan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga anak menjadi paham (domein kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domein afektif) nilai yang baik dan mau melakukannya (domein psikomotor). Seperti kata Aristotle, karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan. Dalam pendidikan moral menenekankan pentingya pembentukan kepribadian dengan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral.(Machmud, 2014)
Peranan anak dalam mengimplementasikan keberadaannya dengan keadaan sosial di lingkungannya sangat dipengaruhi oleh keberadaan orangtua dalam masa perkembangannya. Kebiasaan orangtua untuk melakukan kegitan storytelling menjadi salah satu factor yang melatar belakangi dalam pembentukan emosi dalam diri anak. Hubungan orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan seorang anak. Apa saja yang harus orang tua lakukan pada anak yang sedang emosi, dan bagaimana caranya orang tua memahami anak. Tahap perkembangan anak pun dibagi menjadi beberapa periode. Di masa anak-anak, mereka mempunyai permasalahan- permasalahan yang terkadang sulit untuk dipahami. Kepribadiaan anak-anak cenderung aktif dan memiliki kreativitas yang sangat tinggi. Selain itu, sifat imajinasinya pun selalu dalam pikirannya. Pendidikan pada masa anak-anak harus diperhatikan oleh para orang tua, sedikit saja lengah anak-anak akan dipertanyakan masa depannya. Pendidikan umum dan pendidikan agama harus seimbang. Oleh karena itu, kita sebagai pendidik harus memikirkan moral, tingkah laku dan sikap yang harus ditumbuhkan dan di bina pada anak.(Wade & Tavris, 2010)

DAFTAR PUSTAKA
Ayuni, R. D., & Rusmawati, D. (2013). Pengaruh Storytelling Terhadap Perilaku Empati Anak. Jurnal Psikologi Undip. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/jpu.12.2.121-130
Machmud, H. (2014). URGENSI PENDIDIKAN MORAL DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK. Al- Ta’dib.
Wade, C., & Tavris, C. (2010). PSIKOLOGI. PENERBIT ERLANGGA. https://doi.org/10.1103/PhysRevD.87.092006

5 komentar:

5 Tips Untuk Menambah Semangat

Ingin menyerah? Lakukan 5 hal ini untuk menambah semangat Merasa kehilangan semangat dalam mengejar karir atau menempuh pendidikan ada...