Hubungan
sosial merupakan hal yang penting ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar.
Perilaku empati merupakan kemampuan individu untuk bereaksi sesuai dengan apa
yang dirasakan orang lain. Empati dipengaruhi oleh perspektif individu, gender,
inteligensi, kemiripan, pengalaman, persaudaraan, metode disiplin, dan
kehangatan. Melalui storytelling, anak diharapkan untuk dapat memahami
perbedaan pikiran dan perasaannya dengan orang lain.(Ayuni & Rusmawati, 2013). Pada dasarnya
kegiatan berstorytelling yang dapat diartikan sebagai kegiatan bercerita yang
didasarkan pada cerita yang bersifat fiksi ataupun Non-fiksi adalah sebuah
kegiatan yang sejak dahulu telah dilakukan oleh masyarakat khususnya ditujukan
bagi orangtua dan anak yang pada umumnya
memberikan pengaruh positive bagi pola
pikir dan tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang
menjadikan kegiatan storytelling sebagai sesuatu yang sangat menarik bagi anak
karena dapat membentuk imaginasi yang menuntut anak seolah-olah terlibat dalam
cerita. Bukan hanya dalam keluarga ataupun lingkup kehidupan masyarakat
sehari-hari, storytelling juga digunakan oleh lembaga pendidikan sebagai salah
satu sarana pembelajaran dalam pembentukan karakter dan moral siswa.
Perilaku
empati pada anak merupakan salah satu bagian dalam pembentukan moral dalam
dirinya. Pendidikan moral pada masa modern merupakan tanggapan dan reaksi atas
model pendidikan yang berkembang sejak abad pertengahan. Pendidikan moral yang
menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi merupakan
reaksi atas keterbatasan pedagogi natural. Lahirnya pendidikan moral atau
karakter sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi
ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme. Tujuan
pendidikan moral adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan
esensial antara si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.
Pendidikan moral percaya adanya keberadaan moral absolute dan bahwa moral
absolute itu perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana
yang baik dan benar. Substansi dari pendidikan moral adalah membentuk
kepribadian yang paripurna bagi setiap anak. Prilaku yang diharapkan akan lahir
adalah; berbuat jujur, menolong orang, menghormati, bertanggungjawab,
menghargai, menyayangi saling menerima, empati, simpati dan menerima apa
adanya. Pendidikan moral mempunyai makna lebih tinggi, karena bukan sekedar
mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan
moral dan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik
sehingga anak menjadi paham (domein kognitif) tentang mana yang baik dan salah,
mampu merasakan (domein afektif) nilai yang baik dan mau melakukannya (domein
psikomotor). Seperti kata Aristotle, karakter itu erat kaitannya dengan “habit”
atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan. Dalam pendidikan
moral menenekankan pentingya pembentukan kepribadian dengan tiga komponen
karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau
pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral
action atau perbuatan bermoral.(Machmud, 2014)
Peranan
anak dalam mengimplementasikan keberadaannya dengan keadaan sosial di
lingkungannya sangat dipengaruhi oleh keberadaan orangtua dalam masa
perkembangannya. Kebiasaan orangtua untuk melakukan kegitan storytelling
menjadi salah satu factor yang melatar belakangi dalam pembentukan emosi dalam
diri anak. Hubungan orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan seorang
anak. Apa saja yang harus orang tua lakukan pada anak yang sedang emosi, dan
bagaimana caranya orang tua memahami anak. Tahap perkembangan anak pun dibagi
menjadi beberapa periode. Di masa anak-anak, mereka mempunyai permasalahan-
permasalahan yang terkadang sulit untuk dipahami. Kepribadiaan anak-anak
cenderung aktif dan memiliki kreativitas yang sangat tinggi. Selain itu, sifat
imajinasinya pun selalu dalam pikirannya. Pendidikan pada masa anak-anak harus
diperhatikan oleh para orang tua, sedikit saja lengah anak-anak akan
dipertanyakan masa depannya. Pendidikan umum dan pendidikan agama harus
seimbang. Oleh karena itu, kita sebagai pendidik harus memikirkan moral,
tingkah laku dan sikap yang harus ditumbuhkan dan di bina pada anak.(Wade & Tavris, 2010)
DAFTAR PUSTAKA
Ayuni, R. D., & Rusmawati, D. (2013). Pengaruh
Storytelling Terhadap Perilaku Empati Anak. Jurnal Psikologi Undip.
https://doi.org/https://doi.org/10.14710/jpu.12.2.121-130
Machmud, H. (2014). URGENSI PENDIDIKAN MORAL DALAM MEMBENTUK
KEPRIBADIAN ANAK. Al- Ta’dib.
Wade, C., & Tavris, C. (2010). PSIKOLOGI. PENERBIT
ERLANGGA. https://doi.org/10.1103/PhysRevD.87.092006
wah sangat membantu
BalasHapusterimakasih saudara
HapusSangat membantu. Lanjut lisken
BalasHapuswahh jelas sekali pemaparannya dan mudah dimengerti
BalasHapuswah anakku jadi bersosialisasi
BalasHapus